kesehatan

Loading...

Kamis, 20 Mei 2010

contoh kasus

KASUS
Tuan U berusia 55 tahun, dengan status sudah kawin dan tuan U sudah mempunyai 8 orang anak, bersuku aceh, agama islam. Tuan U sehari-harinya berkerja sebagai Buruh Tani yang bertempat tinggal di kampong Alue Ie Puteh Kecamatan Baktiya Kabupaten Aceh Utara. Dari hasil Diagnosa medis Tuan U menderita gangguan penglihatan atau yang biasa disebut katarak. Tuan U mengatakan sejak beberapa tahun beliau merasakan aneh dengan warna pupil matanya, dan peka terhadap sinar atau cahaya. Tuan U merasakan tidak nyaman dengan kondisinya seperti saat ini, sehingga dia memeriksakan diri ke Rumah Sakit, pada saat pengkajian : Tuan U mengeluhkan rasa cemas atau ke tidak nyamanan saat berkerja atas penyakitnya yang berkelanjutan setiap hari, pernafasan tidak teratur dari pemeriksaan fisik di dapatkan TD = 130/80 mmHg, HR = 80 denyut/I, T = 37°C, .


































3,1 ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN

DIAGNOSA KEPERAWATAN

DX. 1. kecemasan berhubungan dengan kurang terpapar terhadap informasi tentang prosedur tindakan pembedahan

Data Subjektif (DS) :
- pasien mengatakan penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek.
- pasien mengatakan peka terhadap sinar atau cahaya.
- pasien mengatakan dapat melihat dobel pada satu mata.
- Pasien mengatakan rasa takut untuk menjalani operasi
- pasie mengatakan cemas

Data Objektif :
- TD = 130/80 mmHg,
- HR = 80 denyut/i
- T = 37° t
- Pasien terlihat gelisah
- pasien terlihat tegang

Kriteria :
- Pasien mengungkapkan dan mendiskusikan rasa cemas/takutnya
- Pasien tampak rileks tidak tegang dan melaporkan kecemasannya
Samapai pada tingkat dapat diatasi
- Pasien dapat mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang pembedahan
Intervensi Rasional

- 1. Kaji tingkat kecemasan pasien dan catat adanya tanda- tanda verbal dan nonverbal.
- 2. Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaan takutnya.
- 3. Observasi tanda vital dan peningkatan respon fisik pasien
- 4. Beri penjelasan pasien tentang prosedur tindakan operasi, harapan dan akibatnya.
- 5. Beri penjelasan dan suport pada pasien pada setiap melakukan prosedur tindakan
- 6. Lakukan orientasi dan perkenalan pasien terhadap ruangan, petugas, dan peralatan yang akan digunakan.
 1.Derajat kecemasan akan dipengaruhi bagaimana informasi tersebut diterima oleh individu.
- 2. mengungkapkan rasa takut secara terbuka dimana rasa takut dapat ditujukan.
- 3. mengetahui respon fisiologis yang ditimbulkan akibat kecemasan.
- 4. meningkatkan pengetahuan pasien dalam rangka mengurangi kecemasan dan kooperatif.
- 5. mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan .
- 6. mengurangi perasaan takut dan cemas.

Implementasi

- menganjurkan pasien untuk berpuasa
- melakukan dorong ambulasi dini dan memberikan hiburan
- melakukan insisi bedah






Evaluasi

Subjektif (S) :
- pasien mengatakan sudah tidak cemas
- pasien juga mengatakan sudah tidak takut untuk menjalani operasi


Objektif (O) :
- TD = 130/80,
- HR = 80 denyut/I,
- RR = 24 x/I, T = 37° t
- wajah pasien lebih tenang
- sudah tidak tegang


Analisis (A) :
- kecemasan teratasi

Planing (P) :
- intervensi dilanjutkan










































DX.2 . nyeri berhubungan dengan perlukaan sekunder operasi miles prosedur

Data Subjektif (DS) :
- Pasien mengatakan sakit dibagian mata
- Pasien mengatakan susah tidur


Data Objektif : TD = 130/80 mmHg,
HR = 80 denyut/i
T = 37° t wajah mengkerut (+)

- Pasien terlihat gelisah
- Wajah pasien nampak meringis
- Pasien memegang pada area sakit
- Skala nyeri = 7

Kriteria :
- Klien mengungkapkan nyeri berkurang/hilang
- Tidak merintih atau menangis
- Ekspresi wajah rileks
- Klien mampu beristirahat dengan baik

Intervensi Rasional

- Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik dan intensitas nyeri (skala 0-10).
- 2. Motivasi untuk melakukan teknik pengaturan nafas dan mengalihkan perhatian.
- 3. Hindari sentuhan seminimal mungkin untuk mengurangi rangsangan nyeri.
- 4. Berikan analgetik sesuai dengan program medis.
- Untuk membantu mengetahui derajat ketidaknyamanan dan keefektifan analgesic sehingga memudahkan dalam memberi tindakan.
- 2. Tehnik relaksasi dapat mengurangi rangsangan nyeri.
- 3. Sentuhan dapat meningkatkan rangsangan nyeri.
- 4. Analgesik membantu memblok nyeri.

Implementasi

- menganjurkan pasien untuk berpuasa dan istirahat dengan cukup
- menyelidiki perubahan nyeri
- melakukan dorong ambulasi dini dan memberikan hiburan
- melakukan insisi bedah












Evaluasi

Subjektif (S) :
- pasien mengatakan nyeri mulai berkurang
- pasien mengatakan sudah sanggup tidur

Objektif (O) :
- TD = 130/80,
- HR = 80 denyut/I,
- RR = 24 x/I, T = 37° t
- wajah pasien lebih tenang
- skala nyeri = 3

Analisis (A) :
- nyeri teratasi / berkurang

Planing (P) :
- intervensi dilanjutkan











































DX. 3. Risiko penyebaran infeksi berhubungan dengan prosedur tindakan invasive insisi jaringan tubuh

Data subjektif (DS) :
- pasien mengatakan lemas, daerah operasi akan menimbulkan infeksi


Data objektif (DO) : TD =130/80 mmHg, HR = 80 denyut/I, T= 37°t
- wajah pucat (+),
- sering berkeringat (+)
- pasien menggigil dan bingung

Kriteria hasil :
 Tidak terjadi penyebaran infeksi selama tindakan prosedur pembedahan ditandai dengan penggunaan teknik antiseptik dan desinfeksi secara tepat dan benar.
Intervensi rasional
 Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan secara tepat.
 2. Ciptakan lingkungan ruangan yang bersih dan babas dari kontaminasi dunia luar
 3. Jaga area kesterilan luka operasi
 4. Lakukan teknik aseptik dan desinfeksi secara tepat dalam merawat luka
 5. Kolaborasi terapi medik pemberian antibiotika profilaksis  Melindungi klien dari sumber-sumber infeksi, mencegah infeksi silang.
 2. mengurangi kontaminasi dan paparan pasien terhadap agen infektious.
 3. mencegah dan mengurangi transmisi kuman
 4. mencegah kontaminasi patogen
 5. mencegah pertumbuhan dan perkembangan kuman


Implementasi

- memberikan obat antibiotic pada pasien sesuai indikasi
- memberikan buah-buahan yang banyak mengandung vit C, vit A, dan vit E

Evaluasi

Subjektif (S) :
- pasien mengatakan lebih tenang karena mulai sembuh
- pasien mengatakan sudah tidak demam

Objektif (O) :
- TD = 130/80 mmhg
- HR = 80 denyut/I
- RR = 24 x/I, T = 37° t
- wajah pasien lebih segar dan sehat
- pasien sudah tidak lagi berkeringan berlebihan

Analisis (A) :
- infeksi tidak terjadi

Planing (P) :
- intervensi dilanjutkan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

detiknews - detiknews